Mengapa Papa Harus Sering Menggendong Si Kecil?

Memasuki dunia baru sebagai orangtua, pasti akan menciptakan tantangan baru khususnya bagi Papa! Meski dapat kita asumsikan bahwa pengasuhan anak biasanya identik dengan Mama tapi hal ini bukan berarti Papa tidak memiliki peran. Papa juga harus turut bekerjasama dengan Mama. Seperti jika Mama sedang sibuk, Papa juga harus bisa untuk menggendong Si Kecil. Mengapa? Karena ternyata saat papa menggendong anak akan memberi banyak manfaat untuknya! Berikut diantaranya:

  • Meningkatkan keintiman Papa dan Si Kecil

Memiliki waktu intim bersama anak merupakan hal yang cukup langka bagi Papa. Hal ini wajar karena biasanya papa akan lebih banyak sibuk di luar rumah yang tentu menguras waktu. Nah dengan memanfaatkan waktu bersama Si Kecil sambil menggendongnya,  interaksi antara Papa dan Si Kecil akan semakin baik. Hal ini tentu akan berdampak pada ikatan emosional yang semakin baik. Ia pun akan merasa nyaman saat bersama Papa dan tentu merasa aman.

  • Menenangkan dan membuat kualitas tidur yang baik

Kontak langsung dengan Si Kecil sejak bayi sangat dapat memberikan rasa nyaman dan tenang bagi Si Kecil. Selain bagi Si Kecil, kontak ini pun akan secara cepat mengurangi tingkat stress pada Papa yang mungkin sedang memikirkan banyak pekerjaan.

Baca Juga: Pentingnya Kedekatan Si Kecil dengan Papa

  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh Si Kecil

Dampak jangka panjang jika Papa menggendong Si Kecil adalah sistem kekebalan tubuhnya yang akan meningkat. Hal ini dapat terjadi karena sistem kekebalan tubuh papa mengirimkan antibody melawati kulit ke anak sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh Si Kecil.

  • Ia merasa sangat dicintai

Semakin sering interaksi terjadi antara Papa dan Si Kecil, akan membuat ia merasa dicintai oleh orangtuanya. Figur seorang ayah yang menjaga keluarga akan melekat di dalam pikirannya. Kelak setelah ia tumbuh dewasa, anak laki-laki akan menjadi figur yang juga sayang dengan keluarganya, dan anak perempuan akan mampu mencari figur suami yang baik seperti yang digambarkan oleh ayahnya.

Bagaimana agar Papa terbiasa menggendong Si Kecil?

Survey Persil Non-Bio and Comfort Pure menjelaskan bahwa sekitar 60% ayah baru memiliki perasaan khawatir saat menggendong anaknya. Wajar, menggendong tubuh yang masih rapuh membutuhkan pendekatan khusus apalagi bagi laki-laki. Karena itu, terdapat beberapa cara untuk membiasakannya seperti dengan mengajak Papa mengikuti kelas persiapan kelahiran atau seminar tertentu. Selain itu, mencontohkan beberapa cara menggendong bayi kepada Papa secara berkelanjutan. Dengan begitu, Papa akan menjadi lebih paham dan terbiasa untuk menggendong Si Kecil bahkan melakukan banyak hal lainnya.

Nah semoga kini Papa bisa selalu terlibat dalam mengasuh Si Kecil ya, karena bagaimanapun kuncu parenting yang baik adalah kerjasama antara Papa dan Mama bahkan hingga hal terkecil seperti saat Papa menggendong anak. -KJ

 

Mengenal Ragam Pengasuh Anak

Bagi sebagian Mama, mungkin istilah baby sitter sudah tidak lagi asing, ya? Namun ternyata ada dua profesi pengasuh anak lain yang ternyata banyak digunakan, loh! Mungkin sebagian lagi sudah pernah mendengar nanny maupun governess, namun beberapa juga tidak mengetahuinya. Meski sebenarnya sama-sama merupakan perawat anak namun ketiganya memiliki fokus yang berbeda. Apa saja?

Membahas perbedaan baby sitter, nanny dan governess

Meski sederhananya tugas mereka berdua adalah sama yaitu untuk mengasuh, merawat dan menjaga Si Kecil namun ternyata fokusnya tetap berbeda. Hal ini juga berdasarkan kondisi Si Kecil yang berbeda saat ia masih bayi dan saat sudah menjadi balita.

Baca nanti: Perkembangan Motorik Si Kecil yang Harus Diketahui

Baby sitter

Baby sitter merupakan orang yang wajib memiliki pengalaman pelatihan untuk dapat mengasuh dan merawat bayi. Mereka akan berfokus untuk merawat bayi hingga usia maksimal 24 bulan. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya merawat bayi tidaklah sembarangan. Merawat bayi memiliki kesulitan sendiri karena bayi masih belum dapat berkomunikasi dengan orang lain, sehingga mereka dituntut untuk lebih peka. Kepekaan tersebut lah yang terus dilatih dan wajib dimiliki seorang baby sitter.

Tugas seorang baby sitter biasanya akan berkaitan dengan mengisi segala kebutuhan utama Si Keci seperti memandikan, mengganti popok, membuatkan makanan bayi (MPASI) dan menjaga keselamatan Si Kecil. Namun baiknya tetaplah membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan agen atau pengemban tugas tersebut.

Nanny

Setelah membahas baby sitter, kini ada profesi serupa namun tak sama lainnya, yaitu nanny. Apabila baby sitter berfokus pada bayi berusia maksimal 24 bulan, nanny bisa menjadi pengasuhnya saat Si Kecil tumbuh dari usia 2 tahun hingga 5 tahun. Biasanya tugas nanny akan menjadi lebih kompleks lagi. Meski Si Kecil sudah lebih mampu untuk berkomunikasi, ia juga lebih pintar untuk bergerak, dan meniru sekelilingnya.

Karena inilah maka tugas seorang nanny menjadi lebih rumit karena membutuhkan mereka yang benar-benar dapat membimbing dan mendidik Si Kecil sesuai usianya. Bahkan saat tertentu juga ia berperan seperti orangtua Si Kecil yaitu untuk menentukan boleh dan tidak boleh ia lakukan sehingga Si Kecil tumbuh dengan baik.

Governess

Istilah lain yang mungkin agak asing bagi kita adalah governess yang dapat kita definisikan sebagai perawat anak. Namun dalam pengertian ini adalah mereka yang sudah berusia 5 hingga remaja. Pada usia ini, umumnya anak sudah memasuki masa sekolah dan memperoleh beberapa pelajaran tertentu. Pada prosesnya, terkadang membutuhkan seorang perawat anak yang berkompeten dalam mendidik anak.

Governess juga terkadang dipanggil untuk membantu merawat anak berkebutuhan khusus (ABK) karena dinilai mampu untuk mendalami interpersonal Si Kecil dengan kemampuannya.

Nah tadi adalah beberapa perbedaan antara baby sitter, nanny dan governess. Meski pada hakikatnya adalah pengasuh anak, namun ketiganya memiliki konsentrasi yang berbeda yang perlu Papa dan Mama amati kesesuaiannya dengan Si Kecil. Semoga artikel ini membantu, ya! -KJ

 

Mencegah Si Kecil Agar Tidak Menjadi Pembully

Setelah sebelumnya kita membahas jika Si Kecil menjadi korban Bullying, kali ini kita akan membahas bagaimana agar Si Kecil kelak tidak menjadi pembully. Papa dan Mama pun perlu tahu bahwa sebenarnya dibalik seorang anak yang menjadi pembully, adabanyak faktor yang membuatnya menjadi demikian. Faktor-faktor yang berpengaruh biasanya adalah pola asuh atau trauma yang diterima Si Kecil.

Pada dasaranya, anak kecil yang menjadi pelaku pembullyan membutuhkan bimbingan dari Papa dan Mama. Orangtua dapat mengajarkannya bagaimana cara mengolah rasa marah, frustasi, dan emosi yang nanti ia rasakan.

Photo by RODNAE Productions: https://www.pexels.com/photo/boy-sitting-on-his-desk-while-pointing-towards-the-camera-6936412/

Beragam Cara Agar Si Kecil Tidak Menjadi Pembully

Nah kini kita akan berfokus tentang cara agar Si Kecil tidak menjadi pelaku pembullyan yang akan dijabarkan berikut ini.

1. Mengajarkan makna perbedaan

Papa dan Mama yang berada di Indonesia tentu tahu bahwa negara kita penuh dengan banyak perbedaan yang beragam. Hal ini juga secara tidak langsung dapat menjadi bahan pengajaran pada Si Kecil. Papa dan Mama dapat mengajarkannya banyak perbedaan seperti warna kulit, ras, agama dan lainnya. Manfaat dari ini adalah ia akan memiliki pola pikir yang terbuka saat nantinya ia masuk ke sekolah dan melihat banyak sekali perbedaan antar anak seusianya.

2. Mengenali lingkungan bermain Si Kecil

Jika Si Kecil menjadi pembully, hal ini bisa saja terjadi karena ia pernah menjadi korban perundungan di lingkungan pergaulannya yang lain. Hal ini memicunya untuk menunjukkan “kuasanya” dengan sikap agresif pada teman lainnya. Karena itulah penting bagi Papa dan Mama untuk dapat mengenali lingkungan Si Kecil dan memastikan bahwa ia juga aman dari aksi perundungan di sekitarnya.

3. Menjaga konten digital anak

Di era seperti saat ini, konsumsi konten internet tak hanya kita saja yang bisa melakukannya, namun Si Kecil juga. Perlilaku Si Kecil akan sangat dipengaruhi dari apa yang ia konsumsi seperti tontonan, bacaan atau kegiatannya setiap hari. Papa dan Mama harus bisa membantunya untuk memilihkan konten-konten internet yang bermanfaat. Jika terdapat konten yang kebetulan membahas hal yang tidak baik, Papa dan Mama dapat mengajaknya berbicara sambil menerangkan bahwa hal tersebut tidaklah baik untuk dilakukan.

4. Bantu ia mengendalikan emosi

Sebagai anak kecil, wajar baginya jika masih belum dapat mengatur emosinya dengan baik. Saat ia merasakan emosi tertentu seperti marah, sedih, kecewa atau emosi negatif lainnya maka ia biasanya akan melampiaskan hal tersebut dengan berbagai cara, salah satunya adalah membully. Agar ia tidak menjadi pembully, jika melihat pada faktor ini maka kita perlu untuk mengajarinya cara mengatur emosi tersebut. Kita perlu untuk tidak segan saat menanyakan perasaannya hari ini, mulai dengan membangun komunikasi, kita dapat membantunya untuk mengekspresikan emosi tersebut dengan ragam hal seperti bermain, bernyanyi, melukis atau lainnya.

Baca Juga: Bullying, Hal Wajib yang Harus Orangtua Ketahui!
5. Berikan ia contoh yang baik

Si Kecil sedang berada dalam masa pertumbuhan baik secara fisik dan juga mental. Ia akan dapat tumbuh menjadi pribadi seperti apa tentu bergantung dengan proses ia berkembang sehari-hari. Dalam perjalanannya, kita sebagai orangtua perlu untuk selalu memberikannya contoh yang positif seperti tidak mudah marah, tidak berkata kasar atau hal lainnya.

Jika kita mampu mengendalikan emosi dengan baik di depan anak maka ia juga akan menangkap hal tersebut untuk ia tiru.

Nah itulah beberapa cara untuk mencegah anak menjadi pembully. Papa dan Mama dapat mulai untuk melakukan hal-hal tersebut, ya! Kesabaran adalah hal yang mutlak untuk membentuk karakter baik pada anak tapi hal ini penting untuk kita jadikan tantangan! -KJ

 

Mengajak Si Kecil Berolahraga dan Menjadi Lebih Sehat

Setelah Si Kecil lahir, mungkin banyak perubahan yang terjadi dalam kebiasaan kita. Jika dulunya Mama  sering berolahraga, mungkin sekarang panggilan berolahraga itu kembali muncul, ya? Nah, karena sekarang Si Kecil sudah dirasa cukup mampu untuk bergerak dengan baik, mengapa tidak mengajak Si Kecil berolahraga bersama?

Mengajak Si Kecil berolahraga tak hanya akan memberikan manfaat bagi kesehatan dan tumbuh kembang, juga akan meningkatkan kedekatan (bonding) antara Mama dan Si Kecil. Tentu dua hal ini adalah hal yang sedang sangat orangtua perhatikan, bukan? Karena itu, yuk ajak Si Kecil berolahraga dengan beberapa tips berikut ini.

Photo by Ketut Subiyanto from Pexels: https://www.pexels.com/photo/woman-stretching-with-a-little-girl-4473636/

Tips agar Si Kecil mau berolahraga

  • Terlebih dahulu, jelaskan manfaat olahraga padanya

Karena ini akan menjadi pengalaman baru baginya, maka tentu langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah memperkenalkan olaghraga itu sendiri. Ceritakanlah beberapa manfaat penting pada Si Kecil seperti:

  1. Membuat ia akan selalu merasa segar dan tidak mudah lelah saat bermain
  2. Kegiatan mengasyikan yang selalu ia mau
  3. Membantu tumbuh kembangnya

Jika Si Kecil sudah mengetahui manfaat berolahraga apalagi dengan cara bermain, pasti ia akan menjadi antusias untuk mengikuti aktivitas Mama.

  • Jadikan aktivitas bermain

Masih sedikit membahas tentang bermain, bagaimana kira-kira cara untuk membuat olahraga dapat menjadi se-asyik bermain permainan Si Kecil dengan teman-temannya? Terkadang beberapa orangtua memikirkan ini, namun tak perlu bingung. Hal terpenting dari kegiatan ini adalah memastikan agar kegiatannya tidak terlalu kaku. Mama dapat melonggarkan aturan aturan tertentu jika misal mama mengajaknya bermain basket sederhana. Kegiatan lain seperti berenang juga tentu sangat bagus.

  • Mengatur waktu olahraga yang tepat

Rasa bosan dengan aktivitas yang berulang sangat mungkin ia rasakan, ma. Jika ini terjadi maka bisa jadi ia akan lebih mudah kehilangan fokus dan bahkan kehilangan minat untuk melakukan aktivitas tersebut. Aturlah kegiatan ini dengan durasi yang pas tergantung olahraga apa yang akan dilakukan.

Nah tadi adalah beberapa tips sederhana tentang mengajak Si Kecil berolahraga. Dengan melakukan aktivitas ini, ia akan mempelajari banyak hal baru selain tentu meningkatkan ketahanan tubuh dan kualitas pertumbuhannya. Kedepannya, ia juga dapat menjadi semakin percaya diri dalam melakukan segala aktivitasnya. -KJ

kedekatan papa

Pentingnya Kedekatan Si Kecil dengan Papa

Kebahagiaan Papa dan Mama pasti semakin lengkap dengan adanya Si Kecil. Menghabiskan waktu bersama Si Kecil menjadi waktu yang sangat baik untuk kedekatan orangtua dan anak. Sayangnya, biasanya Papa tidak banyak memiliki waktu bersama Si Kecil karena beberapa hal seperti tuntutan pekerjaan. Hal ini tentu wajar, namun dengan waktu yang ada, akan sangat bagus jika Papa memaksimalkan waktu untuk mendekatkan diri dengan Si Kecil. Kedekatan Si Kecil dengan Papa sangat penting bagi pertumbuhannya karena ia dapat menjadi pribadi yang percaya diri dan merasa aman sebagai panutan.

Cara membangun kedekatan dengan Si Kecil

Kedekatan dengan Si Kecil sangatlah penting. Dengan ini, Papa juga dapat semakin mudah dalam membangun karakter yang baik bagi Si Kecil. Karena itu, berikut adalah pembahasan tentang cara membangun kedekatan dengan Si Kecil.

  • Memberikan pelukan yang nyaman

Kalau Mama biasanya akan memiliki caranya sendiri seperti melakukan kontak mata dengan Si Kecil. Papa juga bisa melakukan ini, disertai gendongan dengan pelukan serius dengan kasih sayang. Beritahu dia bahwa ia aman di pelukan Papa.

  • Jadilah teman bermain seperti temannya

Si Kecil akan sering bermain bersama teman-temannya. Namun, pada beberapa waktu Si Kecil ingin bermain namun tidak memungkinkan seperti misalkan sedang hujan. Waktu-waktu seperti ini dapat Papa manfaatkan untuk mengajaknya bermain dan memposisikan diri sebagai teman bermainnya. Dengan begitu, Si Kecil akan selalu merasa puas untuk bermain dan hubungan dengan Papa juga akan semakin meningkat.

  • Membuat Si Kecil senang

Dengan sengaja membuat wajah yang konyol akan sangat membantu, lho! Buatlah ekspresi lucu yang membuatnya tertawa, atau bisa juga dengan mengeluarkan suara-suara lucu seperti hewan kesukaannya. Semakin sering Papa melakukannya maka ia akan terbiasa dan ketagihan dengan itu.

  • Menghentikan tangisannya

Si Kecil mudah menangis, semua orang tahu itu. Tapi siapa yang bisa menenangkannya adalah poin kunci yang harus bisa Papa manfaatkan. Papa bisa memulai dengan menggendongnya dengan hangat. Ayun-ayunkan ia dan coba buat ia melupakan tangisannya. Suasana hati yang riang tentu akan membuatnya bahagia apalagi jika Papa yang melakukannya.

Nah, membangun kedekatan personal antara Papa dan Si Kecil memang sangat penting. Hal ini akan mengajarkan padanya bahwa kedekatan dengan Mama dan Papa adalah penting karena akan membuatnya merasa nyaman sehingga dapat tumbuh dengan optimal. Semangat ya, Pa! – KJ

Perkembangan Motorik Si Kecil yang Harus Diketahui

Si Kecil yang tumbuh dengan cepat sangatlah menakjubkan. Banyak aspek pertumbuhan seperti kekuatan fisiknya yang meningkat karena motorik kasar dan halusnya. Perkembangan motorik sangatlah penting karena hubungannya antara otak, syaraf dan otot. Motorik kasar memiliki keterkaitan dengan otot besar Si Kecil seperti berlari, melompat, atau gerakan kuat lainnya. Sementara, motorik halus berkaitan dengan gerakan anggota tubuh kecil seperti jari tangan untuk menulis, membawa barang dan lainnya.

Berdasarkan hal itu, maka pertumbuhan motorik Si Kecil sangatlah penting untuk Moms dan Dads perhatikan. Memulai membantu tumbuh kembangnya agar semakin optimal dapat orangtua mulai dari memahami tahapan perkembangan motorik Si Kecil seperti pembahasan berikut!

Baca Juga: 6 Bulan Usia Vital Bagi Pertumbuhan Bayi

0-3 bulan  Sejak awal ia lahir hingga memasuki usia 3 bulan, ia akan menggunakan kemampuan otot mendasarnya seperti mengangkat kepala, dada dan beberapa motorik halus. Moms dan Dads dapat membantunya dengan melatih Si Kecil menggunakan benda yang dapat ia genggam karena ia akan mulai menggunakan jarinya dengan menggenggam sehingga berikanlah benda kecil yang mudah ia genggam seperti mainan rattle, atau perlengkapan bayi dengan bahan yang halus.
4-6 bulan Setelah melewati fase 3 bulan pertama, pada usia ini, Ia akan mulai untuk menggerakan badannya. Moms dan Dads bisa membantunya dengan memberikan mainan berukuran besar yang dapat melatihnya bermain dengan leluasa menggunakan seluruh fungsi tubuhnya.
7-9 bulan Pada usia ini, biasanya Si Kecil sudah menjadi lebih kuat secara fisik besar maupun kecil. Khususnya motorik halus, ia akan semakin terlatih untuk menggunakan tenaga sesuai gerak tubuhnya.
10-12 bulan Nah, biasanya Moms dan Dads akan kaget saat menyadari bahwa Si Kecil akan berusia 1 tahun. Pada usia ini, ia akan mulai mengangkat badannya untuk berdiri dan berjalan dengan kaki kecilnya. Kini ia juga dapat duduk tanpa perlu dibantu lagi dan juga mengangkat kakinya tanpa kehilangan keseimbangannya.
1-2 tahun Perkembangannya semakin nampak karena kemampuan refleknya yang semakin membaik. Kini ia semakin pintar dan mampu berjalan dengan baik lalu menerapkannya dalam tujuan tertentu seperti saat mendorong dan menaiki tangga. Kemampuan motorik  halusnya pun meningkat sehingga ia dapat memainkan permainan yang diberikan lebih baik seperti menggambar, dan mengganti baju.
2-3 tahun Di usia in, semakin jelas pertumbuhan fisik Si Kecil yang semakin kuat. Banyak aktivitas yang dapat ia lakukan seperti bermain bola kecil, mengenakan pakaiannya, dan membawa-bawa benda kecil tanpa terlepas. Manfaatkanlah masa ini untuk semakin memperkuat kemampuan motoriknya dengan mengajaknya melakukan ragam aktivitas menyenangkan seperti berpiknik, menggambar benda-benda di sekitarnya.
3-4 tahun Pada saat ini, Si Kecil akan mampu menggunakan kemampuan motoriknya jauh lebih baik. Ia mampu mengayunkan tangannya, dan berlari lari. Kemampuannya menyeimbangkan tubuh juga sudah semakin baik.

Baca Juga: Pantau Pertumbuhan Anak dari Tinggi Badan

Nah, demikianlah tahapan perkembangan motorik Si Kecil berdasarkan usianya. Perlu untuk diketahui bahwa perkembangan motorik kasar biasanya dibarengi dengan perkembangan motorik halusnya. Namun, bukan berarti motorik halus tidak perlu dilatih ya. Tak lupa selalu berikan asupan nutrisi terbaik bagi Si Kecil. -KJ

 

Bullying, Hal Wajib yang Harus Orangtua Ketahui!

Hingga saat ini, bullying atau perundungan masih sering terjadi dalam kehidupan anak-anak kita. Sekolah dan lingkungan umum lainnya sangat sering menjadi tempat terjadinya perundungan ini. Sayangnya, tak semua anak yang menjadi korban bullying berani untuk menceritakannya kepada orangtua karena beberapa faktor seperti ketakutan berlebih, atau justru mentalnya yang sudah sangat lelah karena perundungan.

Studi oleh Ketik Unpad dengan data KPAI menjelaskan bahwa tingkat perundungan semakin meningkat sejak tahun 2016 hingga 2020. Merujuk pada data tersebut, maka penting bagi Moms dan Dads untuk dapat memiliki jalur komunikasi yang sangat baik dengan Si Kecil sehingga perundungan ini dapat segera berhenti.

Foto oleh Mikhail Nilov dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-orang-duduk-anak-kecil-kursi-7929419/

Tanda- tanda Si Kecil Menjadi Korban Bullying

Perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa setiap perilaku bullying tidaklah sama meski masih sama-sama perbuatan yang tidak baik. Setiap jenis memiliki gaya yang berbeda dan cara yang berbeda untuk mengintimidasi targetnya. Dengan menyadari jenis-jenis perundungan tersebut maka orangtua akan dapat lebih tanggap dalam membantu Si Kecil melewati masa sulit tersebut. Adapun beberapa jenis perundungan yang bisa terjadi pada Si Kecil, yaitu:

1. Perundungan secara Verbal

Sesuai namanya, perundungan jenis ini terjadi melalui perkataan yang menyakitkan dengan asosiasi negatif seperti; si dungu, si gendut, si jelek. Biasanya si pelaku akan terus menerus melakukan perundungan ini untuk merendahkan orang lain yang menjadi targetnya. Bullying secara verbal seringkali sulit untuk diketahui karena biasanya terjadi saat orang dewasa tidak ada di sekitar mereka.

Hal ini bisa diperparah karena orang dewasa sering beranggapan bahwa perkataan anak-anak tidak perlu dianggap serius sehingga cenderung menyarankan Si Kecil untuk mengabaikannya. Padahal, verbal bullying harus ditanggapi dengan sangat serius karena bisa saja meninggalkan luka emosional yang dibawa hingga dewasa.

Baca Juga: Menangani Si Kecil yang Hiperaktif

2. Pengucilan terhadap teman

Perilaku ini adalah jenis bullying yang sangat sulit diidentifikasi. Tidak muncul melalui perkataan maupun kekerasan fisik namun lebih ke perilaku Si Kecil dan teman-temannya.  Emosional Si Kecil adalah sasaran dari perundungan ini di mana pelaku (sendiri maupun kelompok) dengan sengaja mengucilkan temannya dengan berbagai cara seperti menuduh, fitnah dan lainnya.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kedudukannya dibandingkan korbannya sehingga ia dapat berkuasa atas targetnya. Jika Si Kecil menjadi lebih penyendiri dari biasanya, atau menjadi orang yang lebih sensitif, bisa saja ia menjadi korban dari perundungan ini karena tingkat kepercayaan dirinya yang berkurang.

3. Ditindas secara fisik

Fisik. Penindasan jenis ini akan memiliki dampak yang kasat mata. Bullying ini terjadi saat anak-anak menggunakan fisik untuk membuat targetnya tidak berdaya. Perilaku seperti memukul, menendang, memukul, menampar, menjambak adalah cirinya. Akibat dari perbuatan ini bagi korban juga mudah terlihat seperti memar atau luka. Saat Si Kecil ditanya mengenai hal ini maka ia tidak akan memberikan alasan yang masuk akal.

Sehingga, penting bagi orangtua untuk jeli. Pasalnya, Si Kecil sangat mungkin menutupi bekas-bekas tersebut. Perhatikan tanda-tanda yang muncul dari perilakunya seperti menolak jika menggunakan baju yang agak terbuka. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang tidak ingin orangtuanya ketahui.

Baca Juga: Stres Pada Balita? Kita Kenali Penyebabnya!

4. Perundungan secara seksual

Biasanya perundungan ini lebih sering terjadi pada perempuan. Perundungan ini pun sangat berpotensi untuk terjadi secara berulang. Tingkatannya pun memiliki tingkatan tersendiri mulai dari yang ringan seperti memberi julukan seperti bagian tertentu yang “terkesan” tidak biasa, hingga yang berat seperti sentuhan-sentuhan yang tidak pantas.

Belum lagi dari akibat teknologi digital. Dengan tingkat emosi yang masih lemah, bisa saja Si Kecil bertukar foto diri ke temannya yang tidak seharusnya karena beberapa alasan. Hal ini membutuhkan kontrol yang sangat teliti dari orangtua

5. Cyberbullying

Ya, perundungan ini terjadi karena perubahan jaman yang masif seperti penggunaan media sosial. Perundungan pada anak juga bisa terjadi di dunia maya karena saat ini sudah banyak anak-anak yang mempunyai akun media sosialnya sendiri. Misal, jika Si Kecil dikomentari secara negatif oleh akun yang tidak jelas identitasnya. Bukan tidak mungkin ia akan menerima perkataan yang menyakitkan.

Jika intensitas Si Kecil di dunia maya terus meningkat namun tanpa ekspresi riang atau bertanya pada orangtua, maka Moms dan Dads perlu curiga. Bicarakanlah dengan terlebih dahulu berbincang dengan ringan bersamanya sebelum “mengulik” apa yang terjadi.

    Tindakan orangtua jika Si Kecil menjadi korban

    Penting bagi orangtua untuk mengetahui tanda-tanda bullying pada anak. Hal ini bertujuan agar orangtua bisa mendampingi dan mencarikan titik pemecahan masalahnya sehingga dampaknya dapat berkurang. Sebagai tips, berikut tindakan yang dapat diambil saat Si Kecil menjadi korban perundungan.

    1. Menggali masalah dengan cara yang tepat

    Jika perundungan terjadi pada Si Kecil, biasanya ia akan menjadi ketakutan. Sehingga, penting bagi orangtua agar dapat menjadi pemecah masalah yang baik. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan membiarkannya menceritakan sendiri tanpa adanya paksaan dari orangtua. Karena bisa jadi bagi Si Kecil, menceritakan hal tersebut adalah hal yang meyakitkan sehingga butuh kemauan dari dirinya sendiri untuk bercerita.

    2. Berikan dukungan dan semangat pada anak

    Tindak lanjut dari poin pertama. Orangtua perlu memastikan bahwa situasinya juga mendukung. Karena pada kondisi seperti itulah orangtua dapat menjelaskan bahwa kita tidak akan meninggalkan Si Kecil dalam masalah ini. Jelaskan juga bahwa Moms dan Dads tidak marah karena hal ini sambil menunjukan sikap yang tenang.

    Baca Juga: Membentuk Pribadi Ceria pada Si Kecil!

    3. Kumpulkan bukti yang kuat

    Sebisa mungkin, kumpulkanlah bukti perundungan seperti dokumentasi jika anak terkena bullying. Bukti tersebut dapat berupa bukti foto jika kekerasan terjadi secara visual ataupun rekaman jika terjadi secara verbal. Jika sudah, maka hal yang perlu dilakukan adalah dengan tidak ragu membicarakan ini dengan pihak yang berkepentingan seperti misalkan sekolah.

    Jangan sampai Si Kecil terus menerus terkena perundungan karena masalah ini tidak kunjung orangtua selesaikan.

    4. Mengembalikan kepercayaan diri Si Kecil

    Seperti sebelumnya disinggung, perundungan akan sangat berpengaruh pada tingkat kepercayaan diri Si Kecil. Sebagai orangtua, kita harus berperan sebagai penenang untuk mengembalikan kepercayaan diri Si Kecil.

    Kuatkanlah dia, latihlah ia untuk lebih berani untuk melawaan hinaan orang lain tanpa harus menghina orang tersebut karena membalas kejahatan dengan kejahatan tidaklah membuat semuanya membaik.

    Nah setelah memahami alasan perundungan terjadi dan cara memposisikan diri bagi Si Kecil, sekarang orangtua dapat lebih bersiap siaga apabila terjadi perubahan tertentu pada Si Kecil. Semoga semuanya membaik, ya! -KJ

     

    anak mewarnai

    Mengajari Si Kecil Mewarnai Gambar

    Salah satu pelajaran dan kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak adaalh mewarnai. Sifat dasar mereka yang memiliki imajinasi tinggi membuat kegiatan ini menjadi sangat menyenangkan karena mereka dapat berkreasi dengan pikirannya. Sebelum mulai mewarnai gambar, biasanya mereka akan meluapkan keinginannya dengan mencorat-coret dinding, baju dan hal lainnya dengan alat tulis atau alat mewarnai yang tentu akan mereporkan. Maka itulah penting bagi orangtua untuk mengajari Si Kecil mewarnai gambar.

    Dalam prosesnya sendiri, mulailah dengan gambar-gambar sederhana terlebih dahulu menyesuaikan dengan tumbuh kembang Si Kecil. Beberapa hal seperti pemilihan warna atau objek yang belum ia kenal juga penting untuk diperhatikan. Bagi Moms yang ingin mengajari Si Kecil mewarnai, berikut ini beberapa cara mengajari Si Kecil mewarnai gambar yang baik.

    Kenalkan Si Kecil Dengan Ragam Warna

    Sebelum memulai, pertama kenalkanlah ia terlebih dahulu dengan macam-macam warna agar ia dapat semakin kreatif namun tetap paham tentang penggunaan warna yang tepat sesuai dengan objeknya.

    1. Mengenalkan warna dasar

    Warna dasar pastinya mudah untuk dikenali oleh Si Kecil. Warna seperti putih, hitam, hijau, merah, kuning dan biru adalah warna-warna dasar yang sering ia lihat. Dengan terlebih dahulu mengajarinya ragam warna dasar akan membuatnya paham penggunaan warna sesuai objeknya.

    2. Menggunakan objek sederhana

    Lingkunan sekitar dapat menjadi sumber objek untuk kegiatan mewarnai Si Kecil. Moms dapat memilih untuk menggunakan objek sederhana yang mudah untuk digambar seperti bangunan rumah, buah, langit dan lainnya. Dengan mengenalkannya objek sederhana akan membuatnya belajar lebih dalam mengenai objek tersebut.

    3. Menggunakan alat mewarnai yang tepat

    Anak-anak juga perlu diajari menggunakan alat warna yang sesuai dengan bidang warnanya. Tentu akan terdapt perbedaan saat Si Kecil menggunakan pensil warna, krayon atau bahkan kuas air. Kenalkanlah ia dimulai dari yang cukup mudah seperti krayon. Selain memiliki ragam warna, krayon juga relatif aman karena tidak memiliki sisi tajam seperti pensil warna.

    4. Membiarkannya berkreasi

    Agar kegiatan ini menyenangkan, biarkanlah ia mengeluarkan imajinasinya. Dengan meluapkan kreativitasnya maka ia akan lebih senang dalam berkreasi sesuai dengan imajinasinya.

    Cara untuk Mulai Mewarnai

    1. Ajarkan cara menggunakan alat warna dengan benar

    Seperti yang tadi dijelaskan, mewarnai memiliki tekniknya sendiri sesuai dengan alat warnanya. Mengajari Si Kecil untuk mewarnai memiliki cara dan membutuhkan kesabaran yang tinggi. Ajarkanlah ia terlebih dulu memegang alat warnanya seperti pensil atau krayon agar hasil gambarnya menjadi lebih bagus lagi. Jika ia tidak dapat langsung mengikuti cara yang Moms berikan, tetaplah sabar dan teruslah mengajarinya dengan pelan.

    2. Ajarkan Si Kecil cara mencampur warna

    Kreativitas adalah kunci dari kegiatan ini sehingga ia akan mecoba banyak hal baru. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengajarkannya mencampur warna. Dengan mencampur warna ia akan berani untuk menggunakan hasil eksperimennya untuk membentuk kombinasi warna yang bagus dan dapat melatihnya untuk membuat visual yang menarik.

    3. Jadikan benda favoritnya sebagai objek

    Aktivitas ini bukan tanpa kendala, ada waktunya ia bosan menggambar hal yang sama sehingga orangtua harus mencari objek penggantinya. Sebagai opsi, Moms bisa menggunakan benda favoritnya seperti mainan, hiasan atau benda lainnya. Dengan begitu, pastinya mereka akan lebih tertarik untuk terus mewarnai.

    4. Memperhatikan mood Si Kecil

    Sangat wajar apabila Si Kecil memiliki tingkat emosi yang tidak stabil. Mereka akan cenderung menolak apabila merasa terpaksa. Pada saat ini penting bagi Moms untuk lihai membaca situasi dan menebak jika ia sudah mulai merasa bosan. Jika ini terjadi, berikanlah ia jeda dan melakukan kegiatan kecil untuk mengembalikan moodnya.

    Mengajari dan memberikan wadah bagi Si Kecil untuk mewarnai memang sangat penting dan baiknya dilakukan sejak dini. Anak yang belajar mewarnai tentu akan meningkat beberapa aspek dari dirinya sehingga penting untuk diakomodir oleh orangtua. Mewarnai sendiri akan menjadi menyenangkan jika diajarkan secara perlahan dan terstruktur agar orangtua dan Si Kecil sama-sama puas dengan hasilnya. -KJ

    Si Kecil Terkena Biang Keringat dan Bagaimana Mengatasinya?

    Biang keringat sangat umum terjadi pada setiap orang. Biasanya biang keringat terjadi akibat adanya penyumbatan saluran kelenjar keringat di kulit tubuh. Kondisi seperti ini sangat sering dijumpai pada Si Kecil yang baru lahir karena regenerasi kulitnya yang masih belum sempurna. Berikut beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko dan cara menanganinya apabila Si Kecil Terkena Biang Keringat.

    1. Aktivitas fisik 

    Aktivitas fisik pastinya akan melibatkan konsumsi energi dan gerak yang cepat bagi Si Kecil. Sebagai akibatnya tubuh akan memproduksi suhu yang lebih tinggi sebagai hasil dari pembakaran energi. Aktivitas fisik tertentu seperti bermain lari-larian di tengan panasnya cuaca dengan menggunakan pakaian berlapis dapat menyebabkan tubuh si Kecil mengeluarkan banyak keringat dan memicu Si Kecil terkena biang keringat.

    2. Belum maksimalnya perkembangan kelenjar keringat

    Balita umumnya belum memiliki kelenjar keringat yang sempurna secara fungsi. Hal ini menyebabkan keringatnya yang jadi terhambat di dalam lapisan kulit.

    3. Tubuh kepanasan

    Kepanasan menjadi salah satu pemicu utama tersumbatnya kelenjar keringat. Kepanasan sendiri berasal dari penyebab tertentu seperti Si Kecil yang bermain di luar saat panas sedang sangat terik, penggunaan pakaian dengan bahan tebal, atau bahkan saat ia istirahat menggunakan selimut yang membuat rasa panas.

    4. Faktor kondisi tubuh (obesitas)

    Berat badan yang ideal tentu saja baik, namun apabila berlebihan justru akan meningkatkan risiko biang keringat khususnya pada lipatan seperti leher, dan perut.

    Biang keringat pada anak balita sebenarnya bukan masalah kulit yang serius dan akan hilang dengan sendirinya. Namun, apakah berarti biang keringat dapat dianggap sebelah mata? Tentu tidak. Karena dalam beberapa kasus, ada juga biang keringat yang tidak kunjung sembuh.

    5. Kapan Harus Diperiksakan ke Dokter?

    Gejala biang keringat adalah rasa gatal yang diiringi dengan bitnik atau bercak merah pada area kulit tertentu. Beberapa kasus menyebutkan biang merah tersebut berubah menjadi berair yang membuat orang tua lantas panik dan bingung. Sehingga kapan waktu yang tepat untuk membawanya ke dokter?

    • Jika biang keringat tidak membaik dalam waktu seminggu
    • Jika tidak ada hasil dari obat tertentu
    • Biang keringat semakin luas dan mengganggu
    • Rasa gatal yang berlebihan membuat Si Kecil terus menggaruks
    • Gejala lain seperti demam dan meriang

    Jika Si Kecil merasakan hal-hal tersebut, menemui dokter adalah pilihan terbaik dan pastinya orang tua jangan ikut panik, ya!

    Gambar oleh Bessi dari Pixabay

    Cara Menangani Biang Keringat

    Gejala-gejala yang timbul akibat biang keringat pasti akan membuatnya tidak merasa nyaman. Jika gejalanya ringan, maka orang tua dapat melakukan beberapa penanganan sendiri, yaitu;

    • Memilih pakaian yang pas dan nyaman

    Saat inilah penting bagi orang tua menyediakan pakaian sesuai kebutuhan Si Kecil. Gantilah pakaiannya yang basah karena keringat dan upayakan menggunakan pakaian longgar yang pas dengan bentuk tubuh Si Kecil. Akan lebih baik jika pakaian tersebut dapat menyerap keringat dengan baik.

    • Meredakan gejala

    Apabila sudah merasakan gangguan maka ada beberapa hal yang harus dilakukan seperti memandikannya dengan air dingin, baringkan ia di ruangan yang sejuk dan menunda penggunaan minyak bayi yang dapat menghalangi keluarnya kelingat Si Kecil.

    • Menjaga hidrasi Si Kecil

    Pastikan ia memperoleh cukup cairan sepanjang hari dalam cuaca apapun. Ia harus minum air putih yang cukup khususnya jika orang tua sudah tau akan jadwal kegiatannya hari ini.

    Seperti yang sudah dijelaskan, biang keringat bukan merupakan suatu masalah serius dan masih bisa diatasi langsung di rumah. Namun apabila gejalanya semakin serius, tetap konsultasikan ke dokter ya Moms! -KJ

    kid crying

    Stres Pada Balita? Kita Kenali Penyebabnya!

    Usia tumbuh kembang balita merupakan masa yang berisi dengan beragam hal. Segala ketrampilan, kemampuan berpikir, hingga tekanan yang terjadi pada masa ini akan menimbulkan ketidakseimbangan emosi yang akan membuat stres pada balita.

    Sebelum mendalami faktor penyebab dan cara mengatasinya, perlu papa mama ketahui ciri-ciri Si Kecil mengalami stres seperti berikut:

    – Mood atau suasana hati yang tidak menentu
    – Pola makan dan tidur yang berubah-ubah
    – Mudah marah dan berkepanjangan
    – Tiba-tiba tak menyukai hal yang sangat ia suka
    – Nampak tidak fokus dan tidak bersemangat
    – Pada beberapa kasus disertai dengan beberapa penyakit fisik
    crying kid

    Penyebab Stres Pada Balita

    Hal utama yang mendasarinya adalah perasaan sensitf terhadap beberapa hal atau lingkungan sekitar yang tidak ia sukai. Hal ini sebenarnya sangat penting untuk dipahami oleh orang tua sehingga sangat perlu untuk memahami penyebab yang akan diuraikan sebagai berikut:

    1. Kurang tidur

    Meski ia nampak sangat bertenaga dari setiap kegiatannya, bukan berarti ia tidak akan merasa lelah. Biasanya ia tidak akan mengakui rasa lelah tersebut meski sebenarnya ia sangat merasakannya. Hal yang berbahaya adalah perubahan kondisi moodnya akibat kelelahan tersebut, ya, sama seperti orang dewasa. Oleh karena itu, penting untuk dapat memastikan Si Kecil memiliki cukup waktu untuk beristirahat.

    2. Padatnya aktivitas

    Untuk menggali potensinya, beberapa orang tua akan mencoba mengikut sertakannya dalam beberapa aktivitas. Hal ini tentu saja baik untuk mendalami bakat ataupun kemampuan lainnya. Namun aktivitas ini bisa menguras sebagian besar tenaganya. Untuk mengatasi ini, selain berkaitan dengan poin pertama, orang tua perlu untuk memastikan beberapa hal seperti asupan gizi, pengaturan jadwal yang seimbang bagi Si Kecil.

    3. Konsumsi konten dewasa

    Kemajuan teknologi memang bukan sesuatu yang bisa dihindari. Banyak manfaat yang kita rasakan karena perkembangan jaman dan cepatnya akses informasi. Namun, anak yang memiliki akses jaringan sangat bisa terpapar konten atau informasi untuk orang dewasa. Tak melulu soal pornografi, namun bisa saja berupa berita yang tidak baik, video yang menyeramkan seperti kekerasan atau kembali lagi yaitu pornografi. Paparan ini akan sangat mudah mengubah kondisi mental dan pikirannya. Oleh karena itu, para orang tua sebaiknya lebih selektif dalam memilah konten dan membuat frekuensi bagi anak dalam memainkan gawai.

    4. Perundungan atau Bullying

    Perundungan atau biasanya disebut “Bullying” adalah hal yang sangat berbahaya bagi kesehatan pikiran dan mental Si Kecil. Sebab, ia yang menjadi korbannya akan merasakan efek berkepanjangan seperti rasa malu, takut yang kemudian akan ia sembunyikan dari orang tua. Jika terus dibiarkan maka ia akan menampung semuanya sendiri dan akan menjadi pemicu stress yang tidak baik.

    Peran orang tua dalam situasi ini adalah dengan menjadi figur yang selalu ada baginya. Tak hanya menemani saat ia baru saja dirundung, namun juga kapanpun ketika memungkinkan untuk mengatakan padanya bahwa ia harus percaya diri dan kuat dalam setiap harinya.

    5. Penyakit

    Kita yang sudah dewasa pun pasti akan merasa stres saat mengetahui bawah orang tua kita menderita penyakit serius. Hal ini terjadi juga pada Si Kecil ketika ia mengetahui bahwa dirinya terkena penyakit. Saat ini, hanya dukungan orang tua dan keberadaan papa dan mama lah yang sangat berarti baginya selain untuk memeriksakannya ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan.

    6. Permasalahan rumah

    Mengasuhnya dengan sepenuh kasih saying dari keluarga adalah hal wajib. Namun seiring perjalanannya, biasanya tak akan terhindar dari beberapa permasalahan papa dan mama, apalagi jika permasalahan tersebut memuncak hingga hal buruk terjadi. Jika pertengkaran terjadi dan ia melihatnya, ia akan menghadapi perubahan besar dalam dirinya. Baiknya, buatlah komitmen untuk tidak menunjukan emosi atau selesaikanlah masalah tersebut tanpa harus dilihatnya.

    Mengatasinya

    Stres pada balita tentu akan mengganggu kegiatan harian bahkan merubah sifatnya dalam jangka panjang sehingga perlu untuk diatasi sejak awal. Berikut beberapa cara menghilangkan stres yang dapat kita lakukan agar Si Kecil kembali ceria:

    Pertama, berilah ia semangat untuk menghadapi segala masalah. Karena biasanya saat ia mendapat masalah, ia lebih suka menghindarinya. Hal ini sebenarnya tidaklah baik, sehingga kita perlu untuk membantunya untuk berani menghadapi masalahnya agar kelak ia terbiasa dan menjadi lebih kuat.

    Kedua, seringlah mengajaknya berdiskusi. Ketika ia menceritakan masalah, perlu papa mama ketahui bahwa itu adalah hal yang “langka”, maka jadilah pendengar yang baik dan menjadi orang yang dapat ia andalkan dalam menyelesaikan ketakutannya.

    Ketiga, tanamkan bahwa rumah adalah tempat yang aman dan nyaman bagi Si Kecil.  Setelah kegiatan di luar, rumah adalah tempat di mana ia akan terlepas dari beban pikirannya dan menemukan cara untuk mengatasi masalahnya. Papa mama pun perlu untuk membangun suasana yang menenangkan agar kondisi rumah adalah seperti yang ia harapkan.

    Cara-cara tersebut pada intinya adalah tentang membangun hubungan yang kuat antara orang tua dan Si Kecil. Agar dapat menjadi lebih sukses, pastikan untuk dapat meluangkan waktu untuk Si Kecil untuk dapat beristirahat dengan rasa sayang dari orang tua sehingga mentalnya terus terjaga dan ia menjadi lebih kuat. -KJ

    top-margin:10px;